Category 1




Anda Pengunjung Ke

Selasa, 15 Juni 2010

BOLAMANIA

Sepak bola adalah salah satu cabang olah raga yang paling banyak penggilanya di kolong jagat ini. Hampir setiap ada kejuaraan sepak bola, dapat dipastikan stadion akan dipenuhi oleh para suporter dari masing-masing klub yang sedang bertarung. Apalagi kalau kejuaraan yang digelar melibatkan tim nasional masing-masing negara, seperti Piala Asia, Piala Eropa, bahkan Piala Dunia. Tak ayal lagi, hampir seluruh suporter masing-masing negara tumplek di stadion untuk mendukung tim nasional kesayangan mereka. Sementara bagi para pendukung yang tidak bisa hadir di stadion, maka TV menjadi sarana utama untuk menyaksikan pertandingan tim kesayangan mereka. Chanel stasiun TV yang menggelar pertandingan selama kejuaraan tersebut berlangsung pun menjadi chanel favourit.
Bahkan dalam kejuaraan sekelas Piala Dunia, sering kali aktivitas sosial ekonomi di suatu negara peserta Piala Dunia menjadi mandeg. Pasar menjadi lengang, kantor menjadi sepi, dan pusat-pusat perbelanjaan pun sepi pengunjung. Semua orang lebih memilih tinggal di rumah untuk menyaksikan kesebelasan nasional mereka berlaga lewat stasiun TV. Bahkan acapkali jam kerja di suatu instansi ataupun perkantoran pun menjadi tak berlaku kala berlangsung kejuaraan Piala Dunia. Memang, setiap negara mempunyai suporter fanatik yang akan setia menyertai kesebelasan mereka di mana pun ia bertanding. Di Inggris dikenal Hooligans, di Italia ada Tiffosi, di Korea Selatan ada The Red Evil, dan seterusnya. Saking fanatiknya mereka itu, sampai-sampai mereka tidak bisa menerima jika tim kesayangan menderita kekalahan. Kerusuhan, pengrusakan dan bentrokan pun seolah menjadi sesuatu yang lazim dalam setiap pertandingan.
Indonesia pun tidak beda jauh dengan negara-negara lain. Bahkan, untuk kompetisi domestik, Indonesia termasuk salah satu negara yang rawan terjadi kerusuhan dan bentrokan saat pertandingan kompetisi LIGINA (Liga Indonesia) digelar. Semua itu karena masing-masing klub yang berlaga di LIGINA mempunyai suporter fanatik. PERSIJA Jakarta punya THE JACK MANIA, PSIS Semarang punya MAHESA JENAR FANS CLUB, PERSIB Bandung punya BOBOTOH, PERSEBAYA Surabaya punya BONEK, AREMA Malang punya AREMANIA, PERSITA Tangerang punya LA VIOLA, dan seterusnya.
Sebenarnya mencintai tim nasional, ataupun tim kesebelasan daerah adalah sesuatu yang wajar dan naluriah setiap orang. Setiap orang tidak akan pernah bisa lepas 100 % dari ‘primordialisme’ nasional dan kedaerahannya. Bahkan kecintaan terhadap negara itu sendiri adalah bagian dari pada iman. Wajar jika orang (rakyat) Indonesia mencintai dan mendukung tim nasional. Wajar jika orang Jakarta mencintai PERSIJA, wajar jika orang Jawa Tengah (Semarang) mencintai PSIS, wajar jika orang Jawa Timur (Surabaya) mencintai PERSEBAYA. Wajar jika orang Bandung mencintai PERSIB, wajar jika orang Makasar mencintai PSM, wajar jika orang Papua (Jayapura) mencintai PERSIPURA, dan seterusnya. Yang tidak wajar adalah jika kecintaannya tersebut terlalu berlebihan, sehingga bisa membawa kepada fanatisme sempit yang mudah menyulut hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya timbulnya kerusuhan dan bentrokan saat tim kesayangannya kalah. Merusak mobil-mobil yang ada di jalan raya ataupun fasilitas umum lainnya untuk melampiaskan kekecewaan atas kekalahan tim yang didukungnya, dan sebagainya. Ataupun sebaliknya, misalnya berpesta pora dan bermabuk-mabukan saat tim kesayangan mereka meraih kemenangan dan kejayaan. Ini jelas bertentangan dengan ajaran dan moralitas ajaran Islam.
Dalam konteks sepak bola, setiap rakyat Indonesia pasti berharap bahwa tim nasional akan selalu berjaya dalam segala event, regional maupun internasional, yang diikutinya. Rakyat Indonesia pasti menginginkan tim nasional selalu memenangi setiap pertandingan. Tapi perlu disadari bahwa kecintaan dan fanatisme yang berlebihan terhadap tim nasional, justru bisa menjadi bumerang atau pisau yang bermata dua. Harapan yang sangat besar dari para pendukung fanatik, bisa saja justru menjadi beban psikologis yang luar biasa bagi pemain, sehingga mereka justru tidak bisa ‘bermain lepas’, sehingga akhirnya malah kalah. Dan bila itu yang terjadi, biasanya suporter tidak bisa terima. Mereka tidak lagi menyanjung puja para pemain tim nasional, tetapi justru hujatan dan caci maki yang mereka lontarkan.
Ini sungguh sikap yang sangat tidak terpuji. Bagaimanapun menang ataupun kalah dalam olah raga (bahkan dalam seluruh lapangan hidup) adalah hal yang biasa. Setiap orang harus mampu bersikap sportif dalam menerima kemenangan atau kekalahan. Agama hanya mengajarkan supaya setiap orang totalitas dalam berusaha mencapai apa yang diinginkannya, termasuk di dalamnya usaha meraih kemenangan dalam sebuah pertandingan sepak bola. Selebihnya, hendaknya ia berserah diri kepada Allah swt.
Memang dunia sepak bola tanpa bolamania maupun suporter fanatik ibarat sayur tanpa garam. Suporter fanatik bisa membuat seluruh isi stadion berwarna biru, kuning, oranye, merah, dan seterusnya. Suporter bisa membuat indah dan meriah suasana. Namun ia juga bisa menyisakan kepedihan yang luar biasa, jika timbul tragedi karena perilakunya. Suporter adalah bagian dari aset yang harus dipelihara untuk menjamin majunya dunia olah raga nasional, khususnya sepak bola. Karenanya upaya ‘pendewasaan’ suporter benar-benar penting dilakukan untuk terealisasinya semua itu. Dan itu semua kembali kepada penyadaran apa dan bagaimana seharusnya para suporter bersikap yang benar dalam mendukung tim yang dicintainya. Bravo sepak bola!!!

Sumber : Sekuntum Mawar untuk Remaja karya Ust. Jefri Al Bukhori dengan berbagai penyesuaian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Santai Sejenak


Masukkan Code ini K1-9793BE-X
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com
Produk SMART Telecom
 

Pengikut

Bagaimana menurut Anda Web ini?

Arsip Blog

Copyright © 2009 by Joko Siswanto
Themes : Magazine Style by Blogger Magazine